Wednesday, August 23, 2006

Great Organization, Great People

Great organizations are always built by great people. Kejayaan Yahoo misalnya lahir dari visi seorang brilian bernama Jerry Yang dan rekannya David Filo. GE menjadi kian berkibar karena kejeniusan Jack Welch. Group musik the Rolling Stones menjadi band paling abadi karena orang-orang dibelakangnya : Mick Jagger, Keith Richard, dan dua orang kawannya. Pun demikian, kesebelasan Brazil menjadi super team lantaran kumpulan manusia didalamnya : mulai dari seniman bola Ronaldinho, hingga si kancil Roberto Carlos.

Ilustrasi diatas menunjukkan dengan jelas bahwa kisah keharuman suatu organisasi – entah organisasi itu berupa perusahaan, grup musik atau kesebelasan sepakbola – selalu ditebarkan oleh kumpulan great people, barisan sumber daya manusia yang mumpuni dan bertalenta tinggi. Persoalannya, melahirkan barisan great people ternyata tidak gampang. Lahirnya sang legenda Jack Welch atau Ronaldinho tentu tak tiba-tiba datang dari langit ketujuh.

Dalam konteks organisasi perusahaan, proses penciptaan dan pengembangan great people akan amat ditentukan oleh tiga elemen kunci berikut. Elemen yang pertama adalah adanya koneksi antara strategi bisnis di masa depan dengan strategi pengembangan SDM yang akan dijalankan. Dengan kata lain, strategi dan program pengembangan SDM hanya akan memiliki makna jika ia selalu diintegrasikan dengan kebutuhan strategis perusahaan dalam menghadapi tantangan bisnis yang makin berat – baik dari sisi ekonomi makro maupun persaingan antar perusahaan. Dalam proses ini, kebijakan dan roadmap strategi perusahaan akan menjadi sumber masukan bagi para pengelola SDM dalam meracik rangkaian program pengembangan yang akan dijalankan.

Elemen kedua adalah ketersediaan infrastruktur dan sistem pengembangan SDM yang solid dan dijalankan dengan konsistensi tinggi. Elemen inilah yang akan memastikan bahwa serangkaian strategi dan program pengembangan SDM yang telah disusun dapat dieksekusi dengan tingkat presisi yang tinggi; dan berkelanjutan. Tanpa dukungan infrastruktur dan sistem pengelolaan SDM yang solid, maka proses pengembangan SDM acapkali hanya akan bersifat parsial, terjebak dalam rutinitas administrasi, dan karenanya gagal menciptakan value bagi pemekaran roda bisnis perusahaan. Pada titik ini, pengelola SDM justru akan tergelincir dalam peran yang marginal; dan tidak akan pernah mampu memberikan kontribusi apapun bagi kemajuan bisnis perusahaannya.

Elemen terakhir yang juga kritikal adalah adanya dukungan dari top manajemen, dan juga dari seluruh manajer lini perusahaan. Sebab, proses pengembangan SDM memang bukan tugas manajer SDM semata, namun merupakan tugas bagi setiap manajer perusahaan – dari manajer atas hingga manajer level bawah. Komitmen dari top manajemen juga mesti diwujudkan dalam keterlibatan aktif untuk mengembangkan mutu SDM. Jack Welch misalnya, ketika menjadi CEO perusahaan GE mengalokasikan hampir 70 % waktunya untuk urusan pengembangan SDM. Ia berujar urusan pengembangan SDM terlalu penting untuk diserahkan pada orang lain.

Pada akhirnya mesti dikatakan bahwa proses mencetak dan mengembangkan great people memang bukan tugas yang ringan dan sederhana. Namun proses ini pada akhirnya harus terus dijalankan, jika kita ingin membangun sebuah imperium bisnis yang berkibar dan harum namanya. Seharum group legendaris Rolling Stones atau setenar tim super kesebelasan Brazil atau sehebat perusahaan kelas dunis General Electric.

Thursday, August 17, 2006

HUMAN Capital : Sebuah Dongeng tentang Bill Gates dan John Lennon

Siapa yang tidak kenal Bill Gates? Banyak orang mengenalnya sebagai brilliant man yang pada usia 25 tahun nekad drop out dari Harvard University; dan memutuskan untuk membangun perusahaan yang kelak kita kenal sebagai salah satu most valuable company on earth, Microsoft. Pria visioner ini juga acap diakui sebagai salah satu arsitek utama dibalik kemajuan industri teknologi informasi global. Dan pasti, Bill Gates juga banyak dikenal sebagai orang terkaya di dunia, dengan total kekayaan kurang lebih lima ratus trilyun rupiah.

Lalu siapa pula yang tak kenal mendiang John Lennon? Musisi jenius ini dikenal sebagai salah satu seniman terbesar abad 20. Bersama tiga sobatnya, Paul Mc Cartney, Ringo Starr dan George Harrison, ia membangun the Beatles sebagai grup musik paling legendaris di dunia, dan juga salah satu band terkaya di muka bumi. Lewat kecerdasannya, ia meracik lagu-lagu abadi semacam Come Together dan Imagine. Tak heran, jutaan orang menangisi kepergiannya yang tragis di tahun 1980.

Lalu, apa hubungan Bill "Microsoft" Gates dan John "the Beatles’” Lennon? Lelaki dari kota Seattle dan Liverpool ini disebut disini karena keduanya mewakili sebuah tema yang kini makin terasa penting : yakni tentang apa itu makna sebenarnya dari human capital atau modal manusia. Tak pelak, keduanya menunjukkan contoh yang paling jitu, bahwa human capital atau modal manusia-lah yang pada akhirnya akan menentukan kemajuan peradaban dan kebudayaan; bukan aset fisik, kecanggihan teknologi ataupun modal finansial. Keduanya juga memberikan ilustrasi betapa jika dikelola dengan brilian, potensi dan kekuatan human capital akan mampu memberikan value added yang bersifat dramatik, dan mampu memicu tumbuhnya sebuah kekuatan bisnis dalam skala yang masif.

Microsoft mungkin tak akan sedahsyat sekarang jika ia tidak dikendalikan oleh kejeniusan seorang Bill Gates. Demikian pula tanpa kejeniusan John Lennon, grup band the Beatles barangkali tak akan pernah dikenang oleh jutaan manusia di muka bumi hingga hari ini. Kisah diatas dengan kata lain menegaskan arti penting dari konsep human capital : yakni bahwa modal kapabilitas, ketrampilan dan kecerdasan sumber daya manusia merupakan elemen fundamental bagi kejayaan sebuah organisasi -- entah organisasi itu berupa perusahaan global atau sebuah grup band musik.

Pertanyaannya kini adalah : apa yang mesti dilakukan agar kita bisa mereproduksi sumber daya manusia sekelas Bill Gates atau John Lennon? Sebuah pertanyaan yang layak dikibarkan di hari ini, tepat 61 tahun Indonesia meraih kemerdekannya.